Tech & AI Journal Oktober 25, 2026
Global Edition

A1. Di Antara Kamu dan Dia

• •
7 min read

Aroma roasted arabica yang kuat menyapa indra penciuman Angel begitu ia mendorong pintu kaca berat milik The Amber Lounge. Kafe itu adalah salah satu tempat paling prestisius di sudut kota, sebuah ruang dengan desain industrial-klasik yang didominasi warna tembaga dan kayu gelap. Di luar, hujan rintik-rintik mulai membasahi jalanan Jakarta, menciptakan lapisan kabut tipis di balik jendela besar yang menghadap ke jalan raya. Lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat menggantung rendah, memberikan kesan intim sekaligus mewah, seintim teori-teori kepribadian yang sering Angel pelajari di bangku kuliah.

Suara denting sendok kecil yang beradu dengan porselen dan musik jazz bertempo lambat menjadi latar belakang yang tenang. Angel menarik napas panjang, merapikan sedikit ujung kardigan rajutnya. Sebagai mahasiswi Psikologi, ia terbiasa mengamati perilaku orang di sekitarnya, namun malam ini, ia justru merasa kesulitan membaca emosinya sendiri. Di kafe semewah ini, ia sering merasa seperti seorang pengamat yang berdiri di luar lingkaran kemewahan itu.

“Angel?”

Sebuah suara bariton yang akrab memecah lamunannya. Angel mendongak dan mendapati Kevin sudah duduk di meja pojok yang paling privat.

Kevin tampak seperti definisi dari kata ‘sempurna’ dalam balutan kemeja linen berwarna biru gelap yang harganya mungkin setara dengan biaya kos Angel selama satu semester. Jam tangan perak melingkar di pergelangan tangannya, berkilau lembut terkena cahaya lampu kafe. Sejak masa SMA, Kevin selalu memiliki aura seperti itu—berwibawa, mapan, dan sulit diabaikan.

“Hai, Vin. Maaf ya, nunggu lama? Macet banget tadi di jalan,” ujar Angel sambil menarik kursi di hadapan pria itu. Ia mencoba melempar senyum terbaiknya, meski ada debar aneh yang mulai muncul di dadanya.

Kevin tersenyum, sebuah senyum yang tulus namun menyimpan sesuatu yang dalam. “Nggak apa-apa, Ngel. Aku juga baru sampai sepuluh menit yang lalu. Coffee’s on me, as always,” ucapnya santai, sambil memberi isyarat pada pelayan untuk memesankan menu favorit Angel.

Percakapan dimulai dengan hal-hal ringan. Kevin bertanya tentang bagaimana perkuliahan Angel di jurusan Psikologi, tentang tugas-tugas praktikum yang menyita waktu, hingga tentang penelitian perilaku manusia yang sedang ia pelajari. Kevin mendengarkan dengan intensitas yang luar biasa. Matanya tidak pernah lepas dari wajah Angel, seolah setiap kata yang keluar dari bibir gadis itu adalah data paling berharga yang perlu ia simpan dalam memorinya.

Angel pun bercerita. Ia mencoba menutupi rasa gugupnya dengan membicarakan beban tugas laporan observasi yang mulai menumpuk. Namun, di balik tawa kecilnya, pikiran Angel berkelana. Ia merasakan sebuah ketegangan yang tak kasat mata, sebuah anomali dalam interaksi mereka yang mulai terasa berat. Atmosfer di meja itu perlahan berubah. Kehangatan kopi yang mengepul di antara mereka seolah mendingin oleh keheningan yang tiba-tiba hadir.

Kevin meletakkan cangkir espresso-nya. Ia tidak lagi bersandar santai. Tubuhnya condong ke depan, menciptakan jarak yang sangat tipis di antara mereka.

“Ngel,” panggilnya pelan. Suaranya kini lebih rendah, lebih serius.

Angel terdiam. Ia merasakan perutnya mulas secara tiba-tiba. “Ya, Vin?”

Kevin menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian yang sudah ia simpan selama bertahun-tahun. “Kamu ingat nggak, waktu kita kelas dua SMA? Waktu aku sering jemput kamu cuma buat sekadar kasih cokelat pas kamu lagi stres ujian?”

Angel tersenyum tipis, memori itu muncul kembali. “Ingatlah. Kamu itu menyebalkan banget, Vin. Suka tiba-tiba muncul di depan kelas.”

“Aku nggak pernah main-main soal itu, Ngel,” potong Kevin. Tatapannya kini mengunci mata Angel, tidak membiarkan gadis itu berpaling. “Banyak hal yang berubah sejak kita lulus. Aku sibuk dengan bisnis keluarga, kamu sibuk dengan duniamu. Tapi ada satu hal yang nggak pernah bergeser sedikit pun.”

Jantung Angel berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari tulang rusuknya. Ia merasa udara di kafe itu mendadak menipis.

“Aku suka kamu. Bukan cuma sebagai teman lama yang sesekali ketemu,” lanjut Kevin. Suaranya bergetar hebat, sebuah kerentanan yang jarang ia perlihatkan pada dunia. “Aku sudah mencoba mengabaikannya, mencoba mencari orang lain, tapi setiap kali aku melihat namamu di layar ponselku, atau saat aku mendengar cerita tentang kesuksesanmu di kampus… itu selalu kamu. Aku ingin kita lebih dari ini, Angel. Aku ingin mendampingi kamu, mendukung semua mimpi kamu, dan jujur… aku ingin kamu jadi bagian dari masa depanku.”

Hening.

Hanya ada suara mesin espresso yang menderam di kejauhan dan rintik hujan yang semakin deras menghantam kaca. Angel terpaku. Ia menatap Kevin, melihat ketulusan yang begitu telanjang di mata pria itu. Ia tahu Kevin adalah pria yang hebat. Ia tahu memiliki Kevin di sisinya berarti keamanan, kenyamanan, dan masa depan yang terjamin secara materi. Kevin adalah sosok yang bisa memberikan dunia padanya tanpa perlu ia meminta.

Namun, di dalam hati Angel, ada sebuah ruang yang tidak bisa ditembus oleh kemewahan Kevin.

“Vin…” suara Angel nyaris berupa bisikan. “Aku… aku nggak tahu harus bilang apa.”

“Jangan bilang apa-apa dulu kalau kamu belum siap,” potong Kevin lembut, mencoba meredam ketegangan. “Tapi tolong, jangan tutup pintu itu. Beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau perasaan ini bukan cuma sekadar obsesi masa muda.”

Angel menunduk, menatap pantulan dirinya di permukaan kopi hitam yang pekat. Pikirannya mendadak kacau. Di satu sisi, ia sangat menghargai Kevin. Ia tidak ingin menyakiti pria sebaik dia. Logikanya berkata bahwa Kevin adalah pilihan yang paling masuk akal. Namun, ada sebuah nama lain yang terus bergema di kepalanya.

Bram.

Nama itu muncul seperti gangguan kognitif di tengah percakapan mereka. Bram, teman kuliahnya. Seorang pemuda sederhana yang tidak memiliki jam tangan perak atau mobil mewah. Bram adalah seseorang yang ia temui di perpustakaan saat ia sedang berjuang dengan referensi buku psikologi perkembangan yang sulit. Bram adalah orang yang bisa membuatnya tertawa hanya dengan lelucon receh tentang dosen mereka, dan orang yang kehadirannya memberikan ketenangan yang berbeda—ketenangan yang tidak menuntut, namun sangat mendalam.

Bersama Bram, Angel merasa menjadi dirinya sendiri, tanpa perlu merasa terintimidasi oleh kemewahan. Bersama Bram, ia merasakan percikan rasa yang selama ini ia cari, sebuah rasa yang membuat jantungnya berdebar bukan karena takut, melainkan karena harapan.

“Aku masih punya banyak tanggung jawab, Vin,” ujar Angel, mencoba mengalihkan topik ke alasan yang lebih ‘aman’. “Kuliahku… semester ini sangat berat. Aku nggak mau ada hal lain yang mengganggu fokusku. Aku ingin lulus dengan baik dulu.”

Kevin tersenyum pahit, ia sudah menduga jawaban itu. “Aku paham. Aku nggak akan memintamu meninggalkan kuliahmu. Justru aku ingin menjadi orang pertama yang merayakan kelulusanmu nanti.”

Angel menggigit bibir bawahnya. Ia merasa bersalah. Ia merasa seperti seorang pengkhianat karena di saat Kevin menawarkan seluruh dunianya, ia justru sedang merindukan kehadiran seseorang yang bahkan tidak menjanjikan apa pun selain kebersamaan yang sederhana.

“Tapi…” Angel ragu. “Aku… aku masih butuh waktu untuk berpikir, Vin. Banyak hal yang harus aku selesaikan dengan diriku sendiri.”

Kevin menatapnya lama, mencoba membaca keraguan di mata Angel. Ia akhirnya mengangguk pelan, meski raut kecewa tak bisa disembunyikan sepenuhnya dari sudut bibirnya. “Oke. Aku nggak akan memaksa. Aku akan tunggu. Sampai kapan pun, aku tetap di sini.”

Malam itu, mereka meninggalkan kafe secara terpisah. Saat Angel berjalan menuju halte bus, udara dingin malam menusuk kulitnya. Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya. Sebuah notifikasi muncul di layar.

Dari: Bram
“Ngel, jangan lupa kerjain tugas analisis perilaku tadi. Besok aku bawa buku referensi yang kamu cari. Semangat ya!”

Angel menatap pesan singkat itu cukup lama. Sebuah senyum kecil, yang sangat tipis dan penuh keraguan, muncul di wajahnya. Ia menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu menatap jalanan yang basah oleh hujan.

Ia belum bisa menerima Kevin. Bukan karena ia tidak mencintainya, tapi karena di dalam hatinya, masih ada sebuah pintu yang terbuka lebar—sebuah pintu yang hanya ditujukan untuk satu nama, yang cintanya masih ia harapkan akan menemukan jalan pulang. Di antara kemewahan yang ditawarkan Kevin dan kesederhanaan yang dijanjikan Bram, Angel masih terjebak dalam simfoni perasaan yang belum usai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *