Powered by Swatizen Oktober 25, 2026
Cerita Pendek Bersambung

A2. Labirin Rasa

• •
6 min read

Matahari pagi menyelinap di antara celah-celah daun pohon mahoni yang memagari koridor Fakultas Psikologi, menciptakan pola-pola cahaya yang menari di atas lantai semen. Namun, bagi Angel, cahaya itu terasa terlalu terang, seolah-olah sinar matahari sengaja ingin menelanjangi kegelisahan yang ia sembunyikan sejak pertemuan dengan Kevin semalam.

Kepalanya terasa berat. Bayangan tatapan mata Kevin yang penuh harap, janji-janji tentang masa depan, dan kemewahan The Amber Lounge masih berputar seperti kaset rusak di benaknya. Ia mencoba fokus pada buku Psikologi Kognitif yang terbuka di depannya, namun konsep tentang cognitive dissonance—ketidaknyamanan yang muncul saat seseorang memegang dua keyakinan yang bertentangan—terasa sangat nyata dialaminya saat ini.

Tiba-tiba, sebuah suara berisik yang sangat familiar memecah keheningan area parkir kampus yang tenang. Suara mesin motor tua yang tersendat-sendat, seolah sedang berjuang antara hidup dan mati, terdengar mendekat.

Preng… pret… pret… dug!

Angel tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Hanya ada satu orang di kampus ini yang memiliki “musik pembuka” sedramatis itu.

Sebuah motor Honda Astrea tahun 90-an yang catnya sudah mulai memudar dan berkarat di beberapa bagian, berhenti tepat di depan area bangku taman tempat Angel duduk. Pengendaranya melepas helm half-face yang sudah agak lecet, menyisir rambut hitamnya yang sedikit berantakan dengan jari, lalu turun dengan gerakan penuh energi.

“Pagi, Sang Peneliti Jiwa!” seru sebuah suara yang riang, memecah konsentrasi Angel.

Bram muncul dengan senyum lebar yang mampu membuat siapa pun merasa bahwa dunia baik-baik saja. Ia mengenakan kaus oblong berwarna putih yang sudah agak kusam dan celana jeans yang warnanya sudah tidak lagi pekat. Penampilannya sangat sederhana, bahkan cenderung acuh tak acuh terhadap tren mode. Namun, ada sesuatu pada dirinya yang membuat orang mustahil untuk tidak menatapnya.

Kulit Bram yang kecoklatan, terbakar matahari karena ia lebih sering menghabiskan waktu di luar ruangan daripada di dalam perpustakaan, tampak kontras secara mencolok saat ia berdiri di samping Angel. Di bawah cahaya matahari pagi, kulit Angel yang putih pucat—hampir terlihat transparan karena kurangnya paparan sinar matahari akibat terlalu banyak belajar—membuat mereka berdua tampak seperti dua kutub yang berbeda. Angel adalah rembulan yang tenang dan dingin, sementara Bram adalah matahari yang hangat dan benderang.

“Kamu telat sepuluh menit, Bram,” ujar Angel, mencoba bersikap tegas meski sudut bibirnya tak mampu menahan senyum.

“Telat itu relatif, Ngel. Yang penting kan sampai dengan selamat tanpa perlu bantuan ambulans,” balas Bram jenaka, sambil menjatuhkan diri di bangku sebelah Angel tanpa permisi. Ia meletakkan tas ranselnya yang tampak berat dan penuh dengan tumpukan kertas.

Angel menghela napas, menutup bukunya. “Aku baru saja membaca tentang teori encoding. Aku kesulitan memahami bagaimana informasi dari memori jangka pendek bisa berpindah ke memori jangka panjang secara efektif tanpa gangguan. Kamu… sudah baca bab ini?”

Bram menyandarkan punggungnya, menatap langit dengan santai. “Oh, yang itu? Gampang banget. Intinya, otak kamu itu kayak smartphone. Kalau kamu cuma copy-paste tanpa dipahami, datanya bakal corrupt pas mau dibuka lagi. Kamu harus kasih ‘label’ atau konteks di setiap informasi. Ibaratnya, kalau kamu belajar tentang depresi, jangan cuma hafal gejalanya, tapi bayangkan ceritanya. Kalau ada emosi yang nempel, memorinya bakal lebih awet.”

Angel tertegun. Ia baru saja menghabiskan waktu tiga jam untuk merenungkan paragraf yang sama, namun Bram menjelaskannya dalam tiga kalimat sederhana yang masuk akal secara intuitif. Ini adalah misteri terbesar bagi Angel: Bram tidak pernah terlihat membawa buku teks ke kelas. Ia jarang terlihat di perpustakaan. Ia lebih sering terlihat di kantin, tertawa bersama teman-teman lainnya, atau sekadar mematung memperhatikan burung di pohon. Namun, setiap kali ujian tiba, atau setiap kali Angel menanyakan materi yang paling rumit sekalipun, Bram selalu memiliki jawaban yang tepat, seolah-olah seluruh isi kurikulum Psikologi telah terinstal secara otomatis di kepalanya.

“Kamu itu curang ya, Bram? Kamu pakai sihir apa?” tanya Angel, setengah bercanda namun penuh rasa kagum.

Bram tertawa, sebuah tawa yang lepas dan menular. “Sihir? Enggak ada. Cuma kebetulan yang berulang-ulang saja. Lagipula, kuliah itu bukan soal seberapa banyak kamu baca, tapi seberapa paham kamu sama esensinya. Jangan terlalu stres, Ngel. Kalau kamu terlalu tegang, amygdala kamu bakal terus-terusan kasih sinyal bahaya, ujung-ujungnya malah nggak bisa mikir.”

Ia kemudian menepuk bahu Angel dengan mantap. “Ayo, semangat! Kamu itu mahasiswi paling cerdas yang aku kenal. Tugas laporan observasi kamu itu pasti bakal dapet A kalau kamu berhenti mikirin hal-hal yang nggak perlu dan fokus ke apa yang ada di depan mata. Aku dukung kamu 100 persen!”

Kata-kata Bram selalu seperti itu. Singkat, padat, dan penuh dorongan semangat yang tulus. Ia tidak pernah memberikan kata-kata puitis yang mendayu-dayu, namun ia memiliki kemampuan langka untuk membuat Angel merasa bahwa ia mampu menaklukkan dunia. Di saat Angel merasa tertekan oleh ekspektasi dosen atau beban materi, Bram adalah jangkar yang menariknya kembali ke realitas dengan cara yang menyenangkan.

Namun, di balik semua kekaguman itu, ada sebuah kesedihan yang tersembunyi di balik mata Angel.

Sambil memperhatikan Bram yang kini asyik bercerita tentang kucing liar yang ia temui di jalan tadi pagi, Angel merasakan sebuah tarikan emosi yang menyakitkan. Ia mengagumi kecerdasan Bram, ia mencintai keceriaannya, ia sangat menghargai kehadirannya. Ia mencintai bagaimana cara Bram melihat dunia dengan cara yang begitu sederhana namun bermakna.

Namun, bagi Bram, Angel hanyalah teman. Teman diskusi, teman belajar, teman tertawa.

Tidak pernah sekalipun ada tatapan Bram yang tertahan lama pada matanya. Tidak pernah ada sentuhan tangan yang tidak sengaja namun terasa bermakna. Bram memperlakukannya dengan kehangatan yang sama seperti ia memperlakukan teman-temannya yang lain—sebuah kehangatan yang murni, tanpa adanya percikan romansa yang tersirat. Bagi Bram, Angel adalah rekan seperjuangan dalam akademis, seseorang yang harus ia dorong untuk sukses, bukan seseorang yang ingin ia miliki.

Angel menatap jemari Bram yang sedikit kotor karena terkena oli motornya tadi. Ia ingin sekali meraih tangan itu, namun ia tahu itu akan merusak segalanya. Ia tidak ingin kehilangan satu-satunya orang yang membuatnya merasa “hidup” hanya karena ia mengejar sesuatu yang tidak pernah bisa ia milinya.

Keadaan ini membuat batin Angel semakin tersiksa. Ia terjebak dalam sebuah paradoks emosional yang sangat kompleks.

Di satu sisi, ada Kevin. Pria yang datang dengan segala keseriusan, kemapanan, dan ketulusan yang nyata. Kevin adalah pelabuhan yang aman. Mencintai Kevin berarti memilih stabilitas, sebuah kepastian di mana ia tidak perlu merasa khawatir tentang masa depan finansial atau perlindungan. Cinta Kevin adalah cinta yang terstruktur, terencana, dan memberikan rasa nyaman yang sangat besar.

Namun di sisi lain, ada Bram. Sosok yang tidak menjanjikan apa-apa selain tawa dan inspirasi. Bram adalah angin sepoi-sepoi yang lewat begitu saja, tidak bisa digenggam, namun kehadirannya selalu membuat udara terasa lebih segar. Angel mendambakan sebuah pengakuan dari Bram. Ia mengharapkan sebuah momen di mana Bram menatapnya bukan sebagai teman diskusi, melainkan sebagai wanita yang ia cintai.

Saat kelas dimulai dan mereka harus berpisah, Angel berjalan menyusuri koridor dengan langkah gontai. Pikirannya kembali ke persimpangan jalan yang mengerikan ini.

Ia masih memegang erat harapan akan cinta Bram, sebuah harapan yang mungkin sia-sia, namun terlalu indah untuk dilepaskan. Namun di saat yang sama, ia tidak bisa menutup mata terhadap ketulusan Kevin yang begitu nyata dan menenangkan.

Di tengah hiruk-pikuk kampus Psikologi, di antara teori tentang cinta, perilaku, dan emosi, Angel tetap menjadi satu-satunya subjek penelitian yang tidak mampu ia temukan jawabannya. Ia masih berdiri di sana, di antara dua detak jantung yang berbeda—satu yang menawarkan kepastian, dan satu lagi yang menawarkan harapan yang tak kunjung berlabuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *